13 Tradisi Masyarakat Daerah Untuk Menyambut Bulan Ramadhan Di Indonesia
Img Src: Pinterest.com

13 Tradisi Masyarakat Daerah Untuk Menyambut Bulan Ramadhan Di Indonesia

13 Tradisi Masyarakat Daerah Untuk Menyambut Bulan Ramadhan Di Indonesia

Bulan Ramadhan sebagai bulan yang paling dinanti-nantikan oleh umat Muslim di penjuru dunia. Masalahnya bulan kesembilan dari kalender Hijriah itu simpan beragam arti penting dalam tuntunan Islam, satu diantaranya sebagai bulan di turunkannya kitab suci Al-Qur’an dan bulan penuh karunia dan ampunan. Sepanjang bulan Ramadan berjalan, semua umat Muslim diharuskan untuk jalankan beribadah puasa sepanjang 30 hari dan rayakan menangnya pada perayaan Idul Fitri yang jatuh di tanggal 1 Syawal dalam kalender Hijriah.

Sebagai negara dengan komunitas Muslim paling besar di dunia, tentu saja bulan ramadhan di Indonesia selalu disongsong dengan demikian semarak oleh beragam warga di pelosok Nusantara. Ketidaksamaan macam suku dan budaya tidak jadi penghambat untuk warga di daerah untuk rayakan hadirnya bulan suci ramadhan di Indonesia dengan keunikannya masing-masing, seperti semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang bermakna ‘berbeda-beda, tetapi masih tetap satu’.

Dibawah ini 13 Tradisi Masyarakat Daerah Untuk Menyambut bulan ramadhan di Indonesia yang sudah kami rangkum.

13 Tradisi Masyarakat Daerah Untuk Menyambut Bulan Ramadhan Di Indonesia

1. Nyorog, Betawi

 

13 Tradisi Masyarakat Daerah Untuk Menyambut Bulan Ramadhan Di Indonesia
Img Src: Pinterest.com

Adat Betawi yang disebutkan dengan Nyorog dilaksanakan dengan membagi bungkusan ke saudara-saudara saat sebelum masuk bulan puasa ramadhan di Indonesia dan saat sebelum Idulfitri. Adat yang sudah dilakukan oleh masyarakat Betawi di Jakarta ini biasanya bermula dari bagian keluarga paling muda yang berkunjung saudara-saudaranya yang lebih tua dan orang yang dituakan di kampungnya, lalu membagi bungkusan berbentuk sembako dan makanan ciri khas Betawi.

Dulu, bungkusan yang dibagi saat lakukan Nyorog ditempatkan dalam rantang yang dibuat dari anyaman daun pandan. Tetapi, bersamaan perubahan jaman, sekarang warga betawi memakai rantang besi atau kotak makan untuk membagi bungkusan Nyorog. Makanan ciri khas Betawi yang kerap dibagi saat adat Nyorog salah satunya ialah sayur gabus pucung, ikan bandeng, dan masakan daging kerbau.

2. Munggahan, Jawa Barat

Adat unik yang sudah dilakukan oleh warga di wilayah Jawa Barat ini datang dari bahasa Sunda, yang memiliki arti “sampai ke”. Warga Jawa Barat mengartikan adat Munggahan sebagai sampainya mereka pada bulan Ramadhan di Indonesia. Maka dari itu, Munggahan sering dilaksanakan di akhir bulan Syakban atau sekian hari saat sebelum masuk bulan Ramadan.

Adat yang telah ada semenjak masuknya tuntunan Islam di tanah Sunda itu dikerjakan dengan botram atau makan bersama, sama-sama mohon maaf, silahturahmi ke rumah keluarga dan famili, dan lakukan bebersih pada tempat beribadah dan pusara keluarga. Munggahan dilaksanakan sebagai bentuk rasa sukur ke Allah dan untuk usaha bersihkan diri dari beberapa hal jelek saat sebelum masuk bulan suci Ramadan.

TRENDING:  Berita Terkini, Witan Pakai Mobil Bak

 

3. Meugang, Aceh

Meugang menjadi satu diantara adat tahunan yang sudah dilakukan oleh warga Aceh saat sebelum masuk bulan puasa ramadhan di Indonesia dan Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha. Adat ini lahir di periode Kerajaan Aceh, yaitu sekitaran tahun 1607-1636 Masehi. Saat itu, Sultan Iskandar Muda menggunting hewan dengan jumlah besar dan membagi dagingnya ke semua rakyat Aceh sebagai pernyataan rasa sukur dan pertanda terima kasih ke rakyatnya. Akhirnya, adat ini mulai mengakar antara warga dan dikerjakan dalam menyongsong beberapa hari besar umat Islam sampai sekarang ini.

Meugang dilaksanakan dengan mengolah daging dengan jumlah besar dan melahapnya dengan keluarga, famili, dan anak-anak yatim piatu. Seringkali daging yang telah diolah dibagi mushola untuk dikonsumsi oleh tetangga dan masyarakat lain, hingga semuanya orang bisa rasakan kebahagiaan lewat sedekah dan kebersama-samaan.

4. Malamang, Sumatera Barat

13 Tradisi Masyarakat Daerah Untuk Menyambut Bulan Ramadhan Di Indonesia
Img Src: Pinterest.com

Malamang sebagai salah satunya adat temurun warga Sumatra Barat yang sudah dilakukan oleh golongan ibu-ibu dalam menyongsong hadirnya bulan Ramadhan di Indonesia. Sama sesuai namanya, Malamang mempunyai makna mengolah lamang, yaitu hidangan yang dibuat dari beras ketan putih dan santan yang dikukus dalam tangkai bambu muda.

Adat yang sudah dilaksanakan semenjak beberapa ratus tahun lalu bermula saat Syekh Burhanuddin, pembawa tuntunan Islam di Minangkabau, tengah bersilaturahmi ke rumah warga dan merekomendasikan warga untuk menyuguhkan lamang saat membagi makanan ke keduanya supaya menghindar makanan haram.

Di wilayah Pariaman dan Agam, adat ini masih menempel dalam masyarakat serta jadi adat yang bukan hanya dilaksanakan saat mendekati bulan puasa, tetapi di beberapa perayaan besar atau acara keluarga. Arah dari adat unik ini untuk bergabung bersama sanak saudara dan memperkuat tali kekerabatan.

5. Dugderan, Semarang

 

Adat Dugderan sekarang bukan hanya jadi adat yang sudah dilakukan oleh umat Muslim di Semarang mendekati bulan ramadhan di Indonesia, tetapi sudah jadi sebuah festival tahunan sebagai keunikan kota Semarang. Festival ini juga didatangi oleh beragam kalangan masyarakat yang tinggal di kota Semarang dan dilaksanakan untuk rayakan keberagaman etnis, budaya, kulineran, dan seni yang berada di Semarang.

Istilah Dugderan datang dari kata “dug” yang disebut suara dari bedug dan deran yang memiliki arti suara mercon, seperti perayaan itu sama dengan arak-arakan yang diwarnai oleh suara bedug dan mercon. Adat yang sudah berguling di Semarang semenjak tahun 1882 itu disemarakkan dengan Karnaval Warak Ngendog yang disebut lambang hewan seperti kambing dan berkepala naga. Karnaval yang bermula dari halaman Kantor Balai Kota sampai Mushola Agung Semarang itu nanti akan diteruskan dengan pembacaan suhuf halaqah dan penabuhan bedug.

TRENDING:  Aplikasi Dramaqu Bikin Nonton Drakor Semakin Mudah

6. Apeman, Yogyakarta

 

Adat Apeman teratur dikerjakan setiap tahunnya oleh warga Yogyakarta mendekati hadirnya bulan suci Ramadhan di Indonesia. Sebagai kota tujuan rekreasi kelas dunia, adat yang awalnya dilaksanakan sebagai pernyataan rasa terima kasih dan sukur ke Yang Maha Kuasa ini diadakan di Jalan Malioboro dan Jalan Sosrowijayan menjadi daya magnet pelancong.

Adat ini dilaksanakan dengan membuat beberapa ratus kue apem secara tradisionil oleh bagian keluarga Keraton Yogyakarta Hadiningrat, yang diawali proses dari ngebluk jeladren atau membuat adonan, selanjutnya diteruskan dengan proses ngapem atau mengolah apem. Adat Apeman dipegang langsung oleh permaisuri sultan, dan dituruti bersama oleh beberapa wanita dari keluarga keraton yang lain.

 

7. Nyadran, Jawa tengah

13 Tradisi Masyarakat Daerah Untuk Menyambut Bulan Ramadhan Di Indonesia
Img Src: Pinterest.com

Nyadran sebagai adat yang perlu untuk warga Jawa tengah. Masalahnya adat ini jadi momen untuk menghargai nenek moyang dan pernyataan rasa sukur pada Si Pembuat. Adat yang sudah dilakukan dengan rangkaian aktivitas, mulai dari bersihkan pusara keluarga, bawa sadranan atau makanan hasil bumi, lalu makan bersama (selamatan) ini diselenggarakan sebulan saat sebelum diawalinya puasa ramadhan di Indonesia. Nyadran seringkali dikerjakan oleh warga Jawa tengah yang ada di wilayah Magelang, Temanggung, dan Kendal.

Yang unik dari adat ini ialah acara makan bersama (selamatan) yang sudah dilakukan bersama dengan sajian hasil tani dan ternak masyarakat, dan dihidangkan di atas daun pisang. Adat Nyadran dipercayai oleh warga sebagai ritual pembersihan diri mendekati bulan suci, dan wujud bakti ke bagian keluarga yang sudah wafat dengan memanjatkan doa dan bersihkan pusara.

 

8. Megengan, Jawa Timur

Kue apem dan pisang sebagai salah satunya sajian yang dihidangkan saat adat Megengan di Jawa Timur.

Nama Megengan mempunyai makna “meredam”, yang diartikan oleh masyarakat Jawa Timur sebagai adat untuk meredam nafsu sebagai penyiapan mendekati bulan ramadhan di Indonesia . Adat ini sendiri biasanya diikuti dengan kenduri yang diselenggarakan di mushola atau masjid dan didatangi oleh masyarakat disekelilingnya. Dalam Megengan, seorang ustadz akan pimpin doa untuk meminta keselamatan dan kemampuan dalam jalankan beribadah puasa.

Saat Megengan, masyarakat yang datang ke kenduri akan bawa nasi yang sering disebutkan sego karena, yang berisi sayur, lauk pauk, dan kue ciri khas Jawa Timur. Sesudah pembacaan doa, tiap orang yang datang bisa ambil sego karena punya siapa dan melahapnya. Adat ini juga dipercayai bawa nilai-nilai kebaikan seperti bawa rejeki, memberikan karakter tulus, dan memupuk kebersama-samaan antara sama-sama umat Muslim.

9. Padusan, Boyolali

13 Tradisi Masyarakat Daerah Untuk Menyambut Bulan Ramadhan Di Indonesia
Img Src: Pinterest.com

Adat Padusan telah berada di Boyolali semenjak jaman Wali Songo dan sudah dilaksanakan secara temurun untuk bersihkan diri dalam menyongsong hadirnya bulan ramadhan di Indonesia. Awalannya, adat ini dilaksanakan dengan dekati sumber mata air yang dipercayai oleh masyarakatnya dapat datangkan karena dan rezeki, lalu warga akan bersihkan diri di mata air itu.

TRENDING:  Lowongan Kerja Malang Riset Perusahaan agar Langsung Diterima Lamaran

Ketidaksamaan dari Padusan dengan tradisi-tradisi pemandian yang lain ialah Padusan harus dilaksanakan seorang diri, hingga orang yang melakukan bisa merenung dan mencerminkan kekeliruan-kesalahan yang sempat dilaksanakan di periode lalu. Sama ini, warga Boyolali yakin bisa masuk bulan Ramadan dengan niat yang lempeng dan jiwa yang bersih.

10. Kirab Riasgan, Kudus

Kirab Riasgan sebagai kirab (festival) yang sudah dilakukan oleh warga Kudus untuk mengidentifikasi diawalinya beribadah puasa ramadhan di Indonesia. Istilah riasgan atau dhandhangan diambil dari lantunan suara bedug mushola yang ditabuh saat masuk awalnya bulan Ramadan. Awalannya, adat ini dilaksanakan oleh beberapa santri yang menanti informasi puasa oleh Sunan Kudus di Mushola Menara Kudus. Peluang itu juga pada akhirnya digunakan oleh beberapa pedagang untuk turut jualan disekitaran mushola, hingga sekarang kirab juga jadi peristiwa masyarakat untuk bergabung saat sebelum masuk bulan puasa.

Sepanjang kirab berjalan, desa-desa yang berada di Kudus akan tampilkan kedahsyatan dusun mereka dengan mengarak kerajinan yang mereka bikin dari Jalan Kiai Telingsing ke arah Mushola Menara Kudus. Pucuk dari adat Kirab Riasgan ialah pertunjukan teatrikal riwayat perayaan Riasgan yang diisikan oleh masyarakat Kudus.

 

11. Picu Lajur, Riau

 

Picu Lajur sebagai salah satunya adat unik yang diadakan oleh warga di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau mendekati bulan ramadhan di Indonesia dengan perayaan sama acara pesta rakyat. Adat ini sendiri dilaksanakan berbentuk perlombaan dayung perahu yang dibuat dari kayu pohon. Istilah Picu Lajur sendiri tiba dari kata Lajur yang memiliki arti perahu dengan bahasa warga di tempat.

Adat ini dilaksanakan setiap tahunnya di Sungai Tangkai Kuantan, yang sudah dipakai sebagai lajur pelayaran semenjak era ke-17. Perlombaan yang selalu diadakan dengan benar-benar semarak ini dipercayai sebagai pucuk dari semua aktivitas, usaha, dan keringat yang dikeluarkan oleh warga di tempat dan dilaksanakan sebagai penghibur dari kegiatan rutin sehari-hari saat sebelum masuk bulan Ramadan.

 

12. Balimau, Minangkabau

Balimau ialah adat unik yang sudah diturunkan secara temurun oleh warga Minangkabau, yaitu lakukan pemandian dengan jeruk nipis untuk bersihkan diri secara lahir batin saat sebelum masuk bulan suci ramadhan di Indonesia. Adat ini dilaksanakan satu atau 2 hari saat sebelum masuk bulan Ramadan dan dikerjakan di teritori yang dialiri oleh sungai atau mempunyai tempat pemandian.

13. Ziarah Kubro, Palembang

13 Tradisi Masyarakat Daerah Untuk Menyambut Bulan Ramadhan Di Indonesia
Img Src: Pinterest.com

Adat Ziarah Kubro menjadi jadwal tahunan untuk warga Muslim Palembang yang tinggal di sejauh Sungai Musi, terutamanya untuk komune Arab disekelilingnya untuk menyambut bulan ramadhan di Indonesia. Adat yang disimpulkan sebagai ziarah pendam itu sebagai aktivitas berkunjung pusara beberapa ulama dan pendiri Kesultanan Palembang Darussalam atau ‘waliyullah’ secara massal. Walau dikerjakan secara massal, adat ini cuman diutamakan untuk golongan lelaki.

Aktivitas ziarah ini umumnya berisi beberapa peziarah yang kenakan pakaian serba putih dan lakukan pawai ke arah beberapa titik ziarah di Palembang. Adat ini juga berjalan sepanjang tiga hari beruntun dan seringkali dituruti oleh peziarah yang tiba dari beberapa kota lain, seperti Aceh, Jambi, Jakarta, dan beberapa kota Jawa Timur. Peristiwa ini dipakai sebagai waktu untuk peziarah untuk lakukan bersilahturahmi dengan sanak saudara dan sama-sama umat Muslim.